Jerapah merupakan hewan mamalia, oleh karena itu banyak dari
struktur anatominya sama dengan apa yang hewan mamalia miliki juga. Seperti
dengan hewan mamalia kebanyakan, jerapah memiliki tujuh tulang leher. Bagaimana
kalau ia tidak punya tujuh tulang di antara pundaknya dan bagian dasar dari
tulang kepalanya? Leher manusia yang pendek menyokong kepala yang sangat
seimbang dengan postur tegak dan usaha yang amat kecil. Kepala jerapah yang
besar mesti ditahan tinggi setiap saat. Pada saat ia tegak, hampir setengah
dari otot lehernya yang beratnya sekitar 225 kilogram (500 pound) sedang dalam
ketegangan. Jumlah otot yang diperlukan secara langsung berhubungan dengan
banyaknya tulang sendi yang harus disokong. Mengurangi tulang sendi hingga
hanya dua (di bagian tengkorak dan di bagian pundak) akan mengurangi beratnya
dengan banyak dan keperluan energi untuk kelangsungan hidup juga ikut
berkurang. Apabila hal kekurangan makanan menjadikan lehernya untuk berubah,
tidakkah jumlah tulang leher dan tulang sendi berubah juga dalam proses
evolusi? Tentu saja masalah dalam disain leher ini adalah hilangnya
fleksibilitas, dan juga meningkatkan kemampuan keretakan secara banyak, apabila
jerapah tersebut menerima suatu pukulan di kepala atau leher.
Dengan kepalanya terangkat tinggi di udara, jantung jerapah
yang besar harus bisa memompa darah penuh dengan oksigen dengan cukup dalam
jarak 3 meter (10 kaki) ke otak. Ini akan menimbulkan masalah (melibatkan
tekanan darah yang terlalu tinggi) ketika jerapah tersebut menurunkan kepalanya
pada saat ia minum air, kalau bukan karena sekelompok dinding arteri yang unik,
katup yang berkeliling dan mencegah pengumpulan darah, jaringan pembuluh darah
yang kecil (rete mirabile, atau ‘jaringan yang mengagumkan’), dan sinyal
pendeteksi tekanan yang menjaga aliran darah yang cukup ke otak dalam tekanan
yang benar. Termasuk bagi yang menganggap ini hanyalah ‘adaptasi terhadap
tekanan gravitasional yang tinggi dalam sistem kardiovaskular’, jerapah adalah
hewan yang unik.
PENYESUAIAN TERHADAP GRAVITASI
|
|
Jantung
jerapah mungkin adalah yang paling kuat di antara hewan-hewan yang lain,
karena sekitar dua kali lipat dari tekanan darah normal diperlukan untuk
memompa darah melalui lehernya yang panjang hingga ke otak. Dengan tekanan
darah yang tinggi ini, hanya fitur desain spesial mencegahnya dari
‘meletuskan otaknya’ ketika ia membungkuk ke bawah untuk minum air.
|
Fakta yang sama menakjubkan adalah darahnya tidak berkumpul
di bagian kaki, dan jerapah tidak berdarah berlimpah-limpah apabila kakinya
terluka. Rahasianya adalah kulitnya yang sangat keras dan jaringan sel di
bagian dalam yang mencegah akumulasi darah. Kombinasi kulit ini telah
dipelajari dengan dalam oleh ilmuwan NASA dalam perkembangan mereka tentang
pakaian untuk astronot. Yang juga berguna untuk mencegah pendarahan besar
terdapat pada seluruh pembuluh darah di kaki jerapah yang begitu internal.
Pembuluh rambut yang menjangkau sampai permukaan amatlah
kecil, dan ukuran sel darah merahnya sekitar satu per tiga dari ukuran yang
dimiliki manusia yang menjadikan aliran darah memungkinkan. Ini tentu menjadi
jelas bahwa dari seluruh segi dalam jerapah ini semuanya saling berinteraksi
dan saling bergantung satu sama lain dengan lehernya yang panjang.
Paru-parunya bekerja sama dengan jantung untuk membekali
jerapah dengan oksigen yang cukup, tetapi dengan cara yang unik untuk jerapah.
Ukuran paru-paru jerapah delapan kali lebih besar dari yang dimiliki manusia,
dan kecepatan pernafasannya sekitar satu per tiga dari manusia. Bernafas dengan
lebih pelan penting untuk menggantikan volume udara yang diperlukan tanpa
menyebabkan pengasaran kulit terhadap trakea jerapah yang berlipat-lipat dan
sepanjang 3,6 meter (12 kaki). Ketika binatang tersebut menghirup nafas segar,
nafas sebelumnya yang telah kehabisan oksigen tidak bisa dikeluarkan
sepenuhnya. Untuk para jerapah, masalah ini dirumitkan lagi oleh trakea yang
panjang dan yang akan menyisakan udara yang mati dengan banyak, lebih banyak
dari satu nafas manusia. Penyelesaiannya adalah udara yang dihirup harus cukup
untuk menjadikan ‘udara buruk’ ini dalam persentase yang kecil dari keseluruhan
total. Ini adalah masalah fisika yang telah dipecahkan oleh jerapah.
KELAHIRAN JERAPAH
Untuk hal yang mengherankan, kelahiran jerapah menyelesaikan
perkara dalam Intelligent Design (Desain Intelijen). Seekor anak binatang yang
baru lahir jatuh dan hidup dari ketinggian 1,5 meter (5 kaki), karena ibunya
tidak mampu jongkok ke tanah dengan nyaman, dan berdiam di bawah pada saat
melahirkan tentu menjadi undangan kepada singa atau pemangsa lain untuk
menyerang sang ibu. Untuk seluruh hewan mamalia, ukuran kepalanya tidak
seimbang dengan ukuran tubuhnya yang lain, dan ini menjadi tantangan untuk
menurunkan sang anak melalui rahim.
Bayi jerapah mendapat tambahan dalam tantangan, yaitu
memiliki leher panjang dan rapuh terhubung dengan seluruh tubuh barunya yang
seberat 70 kilogram (150 pound). Apabila kepalanya keluar dulu, lehernya pasti
retak ketika bagian tubuhnya yang lain jatuh di atas leher. Kalau kepalanya
keluar paling terakhir, lehernya pasti juga retak karena berat badannya menarik
kepalanya keluar dari ibunya. Jalan buntu seperti ini dipecahkan dengan panggul
belakang yang berukuran amat lebih kecil daripada bahu depan, dan panjang
lehernya berukuran cukup untuk memungkinkan kepala melalui rahim dan mendarat
di panggul belakang. Kaki belakang keluar dulu untuk menjaga jatuhnya bagian
tubuh yang lain. Kepalanya disokong dan dibantali oleh panggul belakang, dan
lehernya lumayan lentur, memungkinkan lengkokan tajam di sekitar bahu depan.
Untuk menyatakan bahwa seluruh hal ini mungkin adalah hasil
evolusi ke suatu kelas binatang, dengan kurangnya hal lain yang berhubungan dan
bisa terpikirkan, dan menjadi amat terbina hanya karena yang disangka adalah
kurangnya makanan di bagian permukaan, adalah hal yang mustahil. Tidakkah
seharusnya yang lain yang juga makan di bagian permukaan, yang juga mempan
dengan kucing besar, dan yang juga mengalami radiasi kosmik yang sama, telah
mencapai ketinggian seperti jerapah?
Yang menarik, ada hewan lain yang memang makan dari pohon.
Kijang gerenuk (Litocranius walleri) dari Afrika memiliki leher terpanjang dari
famili kijang, memiliki lidah panjang, dan makan daun-daun dari pohon ketika
berdiri dengan kaki belakangnya. Kambing markhor (Capra falconeri) dari
Afganistan memanjat pohon setinggi 25 kaki untuk memakan daun-daun pohon.
Mamalia lain juga menginginkan daun-daun pohon tetapi tidak ada satupun dari
mereka yang akan menjadi jerapah, dan jerapah tentu saja tidak berasal dari
hewan ‘kurang dari jerapah’.
Kita tidak bisa tahu bahwa kondisi dulu sama dengan
sekarang, namun teori “keperluan akan kelangsungan hidup dengan tumbuh lebih
tinggi demi makanan” merupakan hal yang sedikit lebih dari spekulasi post hoc
(suatu kekeliruan dalam argumen), sama seperti berbagai penjelasan Darwin
tentang jenis hewan. Rekor fosil memastikan ini, dan desain unik dan
menakjubkan yang terlihat dari hewan ini membuktikan ini. Pujian, keagungan,
dan kebesaran tertuju kepada Sang Pencipta jerapah ini.
Teori
Evolusi Jean Baptiste Lamarck Dari Buku Philosophie Zoologique Asal Prancis
Dengan Paham Gagal Use and Disuse - Biologi
Sat, 16/12/2006 - 10:49am — godam64
Jean Baptiste Lamarck (1774-1829)
adalah seorang ahli biologi dari Perancis yang membuat suatu teori mengenai
makhluk hidup yang sederhana dengan yang modern mamiliki suatu hubungan
asal-muasal. Teori Lamarck dikenal dengan paham "use and disuse" dari
buku Philosophie Zoologique yang sudah tidak dapat diterima alias gagal.
Dalam
bukunya lamarck menjelaskan teorinya dengan inti sari sebagai berikut di bawah
ini :
1.
Makhluk hidup sederhana adalah nenek moyang dari makhluk hidup yang sempurna /
modern dengan tingkat kompleksitas yang tinggi.
2.
Makhluk hidup akan senantiasa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekitarnya dengan menggunakan organ tubuhnya.
3.
Organ tubuh yang sering dipakai atau digunakan akan berkembang ke taraf yang
lebih baik, sedangkan organ yang jarang ataupun yang tidak pernah digunakan
akan menghilang.
4.
Perubahan organ tubuh akan diwariskan dan diturunkan ke generasi berikutnya
atau keturunannya.
Contoh
yang digunakan lamark untuk memperkuat teorinya adalah pada binatang / hewan
menjangan. Pada awal mula ceritanya menjangan tidak punya tanduk. Tetapi karena
kepalanya sering digunakan untu beradu kepala antara menjangan yang satu dengan
yang lain, maka tumbuh tanduk panjang. Semakin sering beradu pala, semakin
panjang tanduknya.
Persamaan teori lamack dengan tori darwin adalah evolisi
sama-sama terjadi karena pengaruh faktor lingkungan. Sedangkan perbedaannya
adalah pada yang menyebabkan perubahan makhluk hidup, di mana lamarck
disebabkan oleh kuantitas penggunaan organ tubuh, sedangkan darwin pada seleksi
alam.





0 komentar:
Posting Komentar